kreatif

APAKAH SEMUA ORANG KREATIF ??


APAKAH SEMUA ORANG KREATIF ??

APAKAH SEMUA ORANG KREATIF ??

Banyak orang menafsirkan kreativitas sebagai sesuatu yang penuh misteri padahal sesuatu sebetulnya tidak dmikian !

Sejak tahun 1970, Robert Epstein Ph.D telah melakukan penelitian mengenai kreativitas ini, ia telah melakukan berbagai simulasi di laboratoriumnya dan akhirnya telah telah merumuskan runtutan persamaan matematika sehingga mampu memprediksikan kinerja kreatif seorang individu dari maktu ke waktu.

Jadi sebetulnya perilaku kreatif seseorang adalah perilaku yang :

  • BERATURAN, jadi samasekali bukan hanya fungsi dari “Inspirasi,”Bakat”,”Originalitas murni,”Ilham,”Ide-ide liar dll
  • DAPAT DIPREDIKSI, dapat diramalkan, memiliki trend, sehingga dengan demikian dapat dilatih dan dapat dipelajari !

Hasil penelitian ini dirangkum dalam persamaan-persamaan matematika yang signifikan untuk menunjukkan tahapan kretif seseorang.

Teori tentang tahapan kreatif ini dirangkum dalam Generativity Theory. Lokakarya in didasarkan pada hasil penelitian Robert Epstein Ph.D diatas.


GENERATIVITY THEORY

GENERATIVITY THEORY

Kreatifitas dihasilkan oleh rangkaian aktifitas pada waktu yang bersamaan

Kita semua mampu melakukan berbagai tindakan pada waktu yang bersamaan. Kita dapat duduk sambil makan kacang, sambil melihat TV, sambil menggoyangkan kaki mengikuti irama musik yang keluar dari acara TV dan sesekali mengawasi kucing yang tidur didekat kaki.

Ketika acara TV tidak menarik, kita mungkin sekali akan segera mengambil remote kontrol dan mengganti acara pada saluran yang lain.

Semua perilaku ini kita yang jalankan ini jumlahnya tidak terbatas dan semua orang mampu melakukannya. Batasannya hanyalah ruang dan waktu. Bila kucing anda tidak berada dalam ruangan itu, maka tindakan mengawasi kucing tidak akan anda lakukan, bukan saja karena tidak mungkin tetapi anda juga tidak akan “terangsang” untuk melakukannya.

Jadi pada dasarnya semua orang mampu melakukan berbagai macam tindakan/aktivitas pada keadaan tertentu dan pada waktu tertentu. (dan bahkan selalu melakukannya, karena sangat jarang kita hanya melakukan tindakan tunggal pada suatu waktu).

Aktivitas yang dimaksud, tidak hanya tindakan fisik, tetapi termasuk didalamnya “tindakan dalam bentuk imajinasi, berpikir, merasa, mendengar, melihat dll”. Aktivitas-aktivitas ini akan dipengaruhi oleh situasi pada saat itu.

Rangkaian aktifitas inilah yang akan meng-generate aktivitas baru. Aktivitas baru inilah uang menjadi benih kreativitas seseorang.

Oleh karena setiap orang melakukan rangkaian perilaku pada setiap saat maka semua orang memiliki benih kreativitas pada dirinya.

Kreativitas seseorang ditentukan oleh pengalaman dan keunikan masing-masing individu.

Apabila kita gilirkan sebarisan orang untuk melakukan aktivitas dalam suatu ruangan yang sama dengan kondisi yang sama, maka aktivitas masing-masing orang tersebut akan dipengaruhi oleh :

  • Pengalaman pribadi orang tersebut.
  • Keunikan orang tersebut. Tiap-tiap orang orang berbeda satu sama lainnya, tinggi tubuh, berat tubuh, jenis kelamin, umur,etnis, jaringan otot, jaringan syaraf dll. Semua ini menjadi satu kesatuan yang kita kenal sebagai “keunikan” orang tersebut.

Oleh karena rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh masing-masing individu “unik” maka “benih” kreativitas masing-masing orang juga menjadi unik. Masing-masing teap memiliki potensi untuk melakukan tindakan/aktivitas kreatif. (berupa tindakan, imajinasi, pikiran dll). Potensi aktivitas kreatifnya hanya dibatasi oleh pengalamannya dan keunikan fisiknya, padahal baik pengalaman maupun keunikan fisik seseorang sangat luas dan beragam, tidak terhingga banyaknya.

Jadi batas potensi kreatif setiap orang pada dasarnya tak terhingga!.

Perasaan “tidak memiliki kreativitas SEPERTI YANG DIMILIKI ORANG LAIN”. Dirinya tetap memiliki kreativitas, tetapi tidak seprti yang dilakukan oleh orang yang dijadikan pembanding.

Hanya orang mati saja yang tidak lagi memiliki potensi kreatif.

Selama ia masih hidup dan mampu melakukan rangkaian aktivitas (bertindak, berfikir, merasa, membayangkan dll) pada saat yang sama, ia bahkan TIDAK MUNGKIN DAPAT MENGHILANGKAN POTENSI KRETIFNYA.

Mitos-Mitos Semu Tentang KREATIVITAS

Mitos-Mitos Semu tentang KREATIVITAS.

Kreativitas adalah barang langka

Research membuktikan bahwa mekanisme yang mendasari proses kreatif adalah almiah. Semua orang memiliki mekanisme untuk menghasilkan proses kreatif, bahkan tidak ada orang yang mampu bertahan hidup kalau tidak memiliki mekanisme ini. Mekanisme proses kreatif ini terus menerus berlangsung pada setiap saat dan pada setiap manusia, bahkan pada saat ia terlelap pulas. Tentu saja mekanisme ini tidak akan selalu menghasilkan sesuatu yang bernilai/berharga bagi lingkungan soasialnya (syarat untuk bisa dianggap : kreatif).

Didalam kepala setiap orang selalu akan bermunculan ide-ide baru, tetapi mangapa hanya ada seorang beethovens, seorang Chairil anwar, seorang Piccasso ?

Bukankah ini merupakan bukti bahwa kreativitas adalah barang langka?

Ada beberapa sebab yang menjadikan kreativitas seolah-olah barang langka :

Pertama, banyak diantara kita yang telah melupakan kemampuan “capturing” atas ide-ide yang berseliweran didalam kepala kita sementara “orang-orang langka” tersebut (entah dengan sengaja atau tidak), memiliki kemampuan capturing secara prima.

Pendidikan, aturan, sopan santun dll, telah menyebabkan kita mengabaikan kemampuan capturing yang kita miliki . karena kita abaikan, maka kita tidak lagi melakukan “latihan” untuk menambah ketrampilan kita dalam melakukan capturing.

Ada banyak orang yang ternyata “Lahir” kembali menjadi seorang yang super kreatif setelah umurnya melalui pertengahan abad.

Pendiri Mc Dhonald, baru memulai usahanya setelah usianya lebih dari 50th. Sebelum itu ia hanya seorang salesman biasa, tentu saja ia sama sekali tidak termasuk dalam daftar orang kreatif, pada saat itu.

Ini berarti kreativitas bukan barang langka, tetapi harta terpendam dan belum tergali.

Hal Kedua, yang menyebabkan demikian langka orang yang disebut sebagai orang kreatif adalah karena label kreatif selalu mensyaratkan lahirnya “produk yang bernilai/bermanfaat bagi lingkungan sosialnya”.

Kita semua cenderung menganggap bahwa “produk kreatif” itu lahir dengan mendadak dan langsung sempurna. Para praktisi dibidang advertising/rumah produksi dll sangat paham produk kreatif tersebut dihasilkan setelah mengalami proses “capturing” berulang kali. Seorang fotografer akan menjepretkan kameranya berulang kali untuk mendapatkan 1 gambar yang bernilai yang kelak disebut sebagai hasil kreatifnya! Banyak orang yang merasa tidak kreatif (padahal punya potensi kreatif) tidak melakukan seperti yang dilakukan oleh fotografer pada contoh diatas.

Nilai kreatif juga sangat dipengaruhi oleh ketenaran kreatornya. Semakin terkenal kreatornya semakin besar label kreatif yang disandangnya.

Ada banyak seniman terkenal yang ternyata karya-karya kreatifnya ditolak (dianggap tidak kreatif) ketika ia belum terkenal dan menjadi karya kreatif ketika ia telah menjadi terkenal, padahal karya itu adalah karya yang sama sekali tidak mengalami revisi!.

Hanya seniman saja yang memiliki kreativitas

Tentu saja seniman memiliki kreatifitas karena mereka memberi perhatian pada ide-ide barunya, mereka tidak malu menyampaikan karya-karyanya. Jadi yang menjadikan kreatif bukan bawaan dirinya tetapi perilakunya.

Hanya orang dengan IQ tinggi yang kreatif

Potensi kreatif setiap orang sama, tetapi orang yang cerdas akan lebih cepat belajar (menambah stock pengalaman), orang yang cerdas lebih berani memasarkan ide-idenya, orang yang cerdas lebih ambisius untuk memecahkan berbagai problem. Jadi sekali lagi penyebabnya adalah perilakunya bukan bakat bawaan.

Kreativitas penuh misteri

Bagi orang kebanyakan, komputer juga penuh misteri. Bagi suku terasing sepucuk surat juga penuh misteri : Bagaimana mungkin orang ditempat lain hanya mengirim kertas dengan oretan-oretan ternyata mampu menyebabkan orang yang menerimanya menjadi tahu keadaan si pengirim surat.

Seperti banyak orang menganggap komputer penuh misteri, bagi para insinyur dibidang informatika, komputer samasekali tidak misterius, malahan sangat alamiah dan sederhana.

Kreativitas yang dihasilkan oleh “komputer” yang terpasang didalam kepala manusia sama sederhananya seperti hasil yang diberikan ole komputer. Semuanya saling beraturan dan dapat diprediksi.

Bila anda berkesempatan meneliti perilaku kreatif seorang anak melalui rekaman video akan tampak bahwa apa yang dilakukan adalah beraturan, mengikuti kaidah yang baku dan dapat diramalkan hasilnya. Perilaku ini juga dijalankan oleh para seniman besar!.

Pada lokakarya ini kita akan melakukan berbagai percobaan yang menunjukkan kebenaran teori diatas.

Novelty, Creativity & Innovation

Hal Baru, Kreatif & Inovatif (Novelty, Creativity & Innovation)

NOVELTY

Apabila kita melakukan rangkaian aktivitas pada saat yang sama, maka susunan saraf kita akan menjadi “sibuk”. Kesibukan ini menyebabkan masing-masing rangkaian aktivitas yang (akan) dilakukan melakukan persaingan satu dengan yang lainnya. Masing-masing aktivitas yang (akan) dilakukan saling berdesakan dengan “supporter” yang dimiliki masing-masing (berupa pengalaman dan kemampuan yang telah dimiliki sebelumnya).

Susunan syaraf berdasarkan prioritas tertentu akan memilih aktivitas mana yang direalisasikan. Persaingan ini kadang-kadang berlangsung “individual”, maka tidak ada perilaku baru (novel) yang dihasilkan, kadang-kadang “calon” aktivitas ini melakukan “kolaborasi” dengan “calon” aktivitas yang lain, maka dihasilkan PERILAKU BARU (novelty).

Pada dasarnya semua perilaku adalah baru walaupun “derajad ke-baru-an” nya kadang-kadang sangat tidak signifikan. Situasi dan kondisi selalu mengalir dan berubah, oleh karena itu tidak pernah ada situasi dan kondisi yang tepat sama (identik) dengan situasi dan kondisi tertentu. Oleh karena itu perilaku yang dihasilkan juga tidak akan pernah identik (tepat sama) dengan perilaku lama.

Perilaku baru dalam bentuk pikiran sering disebut ide baru (novel idea). Ahli matematika ”ide baru” sebagai hasil dari benturan ide lama yang menyatu menjadi pasangan baru, sementara Einstein menyebutkan sebagai “hasil kombinasi”.

Itulah sebabnya Generativity Theory dapat membuat persamaan matematika untuk “kombinasi” ini, dan karena persamaan matematikanya dapat dituliskan, maka kombinasi yang dihasilkan juga merupakan hal yang dapat diramalkan.

Kita sebagai awam dapat memanfaatkannya sebagai ”dapat direkayasa” (bagi lingkungan kerja kita) dan “dapat dilatih” (bagi diri sendiri).

CREATIVITY

Perilaku baru (novel Behaviour) tidak selalu dianggap kreatif. Yang menentukan apakah perlaku baru tersebut tergolong sebagai perilaku kreatif atau bukan adalah lingkungan sosialnya. Perilaku baru akan digolongkan sebagai kreatif bila oleh lingkungan sosialnya :

  • Dianggap baru
  • Dianggap bermanfaat

Lingkungan sosial yang menentukannya! Oleh karena itu sesuatu yang dianggap kreatif oleh lingkungan sosial tertentu belum tentu dianggap kreatif oleh lingkungan sosial yang lain. Pengalaman inilah yang sering menyudutkan kita pada prasangka diri, bahwa kita tidak kreatif!.

Ketika seorang anak balita mengucapkan kata “mama”, tetangga tidak akan menganggap perilakunya kreatif, tetapi bagi orang tuanya sendiri perilaku tersebut akan dianggap kreatif karena:

  • Kemarin ia belum pernah melakukannya (novel)
  • Orang tuanya menganggap kemam-puannya mengucapkan “mama” ini bermanfaat untuk membangun komunikasi dengan orang tua.

INNOVATION

Perilaku kreatif akan menghasilkan sesuatu. Sesuatu ini bisa dalam berbagai bentuk, dari sekedar perasaan individual, perubahan, proses, barang dan jasa.

Bila perilaku kreatif tersebut mampu menhgasilkan barang/jasa/proses yang dapat menghasilkan keuntungan, maka perilaku tersebut digolongkan sebagai perilaku innovative sedangkan barang/jasa/proses yang dihasilkannya disebut sebagai innovasi.

Oleh karena itu agar kita mampu menghasilkan inovasi, haruslah disediakan:

  • “Kolam kreatif”, semakin banyak ide kreatif semakin bagus
  • Mekanisme yang effisien untuk menyaring ide-ide yang bila direalisasikan dalam bentuk barang/jasa/proses yang dapat memberi keuntungan finansial.

KESIMPULAN.

Semua perilaku (dalam bentuk pikiran, ide, dan tindakan) selalu mengalir dan menyibukkan susunan saraf kita. Semua perilaku ini akan saling bersaing dan akan menghasilkan variasi perilaku. Variasi perilaku yang dihasilkan oleh kombinasi dua atau lebih aktifitas akan menghasilkan perilaku baru (dalam bentuk pikiran, ide dan atau tindakan). Proses penggabungan dua atau lebih perilaku ini dapat direkayasa, dapat diatur dan diramalkan hasilnya.

Dengan mengendalikan semua parameter yang ada, kita akan dapat mengatur arus kreativitas kita pada sasaran yang diharapkan.

Semua perilaku yang saling bersaing untuk menghasilkan perilaku baru ini adalah perilaku lama, oleh karena itu semakin banyak pengalaman akan semakin banyak pengalaman akan semakin banyak variasi yang mungkin dihasilkan.

Ini berarti dimungkinkan untuk mengarahkan dan mendorong proses proses-proses kreatif dilingkungan kerja kita, dilingkungan kerja anak buah kita, dilingkungan kerja anak-anak kita , murid-murid kita, teman-teman kita. Dengan mengendalikan secra akurat parameter-parameter yang mendukung proses kreatif ini (menambah ketrampilan, menambah pengalaman, memberikan suasana dll).

Strategi

untuk meningkatkanKreativitas

Strategi untuk meningkatkan kreativitas

Ada 4 strategi untuk meningkatkan dan mengarahkan kreativitas seseorang atau organisasi. Keempat strategi ini ditujukan agar seluruh sumberdaya yang dimiliki dapat diberdayakan untuk meningkatkan kreatifitas.

Keempat strategi itu adalah :

  • CAPTURING
  • CHALLENGING
  • BROADENING
  • SURROUNDING

CAPTURING

Proses pembentukan (Generative process) ide baru tidak pernah berhenti, bahkan ketika kita tidur. Ini berarti setiap saat kita sebenarnya kreatif, potensi kreatif kita mengejawantahkan dirinya.

Pada waktu kita masih kanak-kanak, kita memperhatikan segala macam dan pada saat itu aliran “generative” terjadi, pikiran dan ide seorang anak akan sangat bervariasi, bagaikan air yang mendidih, ide demi ide mengalir sejalan dengan stimulus yang mengelilinginya.

“Pabrik ide” ini terus berproduksi dan hasilnya sangat dinikmati oleh individu muda, mereka mengamati segala macam, menceritakan kepada siapa saja, dan menirukan serta berperilaku seperti yang dihasilkan oleh proses generative yang berlangsung pada “pabrik ide” yang beroperasi didalam kepalanya.

Sayang sekali semakin bertambah umur si balita, semakin banyak larangan diberikan kepadanya. Sopan santun melarang mereka untuk bertindak langsung atas semua apa yang dihasilkan oleh “pabrik ide”-nya, larangan orang tua, pendidikan disekolah, etika pergaulan, tekanan lingkungan sosial, semuanya secara simultan memerintahkan pada individu muda tersebut untuk mengabaikan “pabrik ide” yang terus berproduksi ini sampai akhirnya ketika menjadi dewasa individu muda tersebut menjadi tidak lagi menyadari bahwa “pabrik ide” nya masih beroperasi dan masih ada didalm kepalanya.

Strategi pertama dalam rangka peningkatan kreatifitas adalah mengembangkan kembali kemampuan untuk menyadari keberadan “pabrik ide” ini dan kemudian meningkatkan kemampuan untuk “menjerat” ide yang mengalir. Proses ini disebut proses “capturing”.

Pada beberapa orang yang dikenal dengan sebutan seniman, pengrang, investor, komposer, pelukis, penari, pelawak, dll, proses capturing ini dikuasai secara prima. Mereka secara sadar maupun tidak sadar terus menyadari adanya “pabrik ide” didalam kepalanya dan terus melatihnya menjadi ahli dalam menjerat ide yang berseliweran didalam kepalanya. Itulah sebabnya para pekerja kreatif ini sering kali berperilaku “lain” dibandingkan dengan orang pada umumnya (yang tidak merasa kreatif). Sadar atau tidak, para pekerja kreatif ini melakukan “pembangkangan” atas perintah-perintah untuk mengabaikan “pabrik ide”nya yang biasanya dilakukan oleh adat istiadat, sopan santun, etika, pendidikan dan tekanan lingkungan sosialnya. Mereka membangkang untuk menutup pabrik idenya, maka mereka tetap kreatif dan semakin bertambah kreatif, sementara yang lain, yang patuh, demi mengikuti semua aturan dan tekanan lingkungan sosialnya menjadi semakin tidak kreatif. Bahkan akhirnya mempercayai dirinya sama sekali tidak kreatif.

Proses Capturing membutuhkan kepedulian pada diri sendiri tentang apa yang berkelebat dalam pikirannya, oleh karena itu masing-masing diantara kita perlu menyediakan “alat potret instan” yang mampu menjerat ide yang bermunculan. Didalam lingkungan kerja alat-alat ini juga sangat diperlukan agar setiap individu yang didalam organisasinya dapat segera “memotret” idenya.

Berbagai macam notes, folder, kotak ide dapat digunakan sebagai tempat menyimpan hasil jepretan potret “ide” yang melintas.

Oleh karena orang cenderung terlalu takut ditertawakan idenya, maka untuk keperluan organisasi perlu juga diadakan kotak saran/ide annonym, semacam “surat kaleng” untuk ide-ide yang dianggap liar oleh pemiliknya tetapi mungkin dikemudian hari ternyata sangat berguna dan memiliki nilai inovasi tinggi. (“dapat diuangkan”).

CHALLENGING

Seperti kita ketahui, ide-ide baru muncul karena ada ide-ide lama yang saling bersaing untuk dimanifestasikan menjadi perilaku (dalam bentuk aktivitas, pikiran, ide dll). Semakin banyak ide-ide yang bersaing untuk dilakukan pada saat yang sama akan semakin banyak pula kemungkinan terbentuknya ide-ide baru.

Ide-ide lama ini harus saling berbenturan sehingga tercipta kemungkinan terbentuknya pasangan atau variasi baru. Oleh karena itu semakin keras benturan atau persaingan di antara ide-ide lama akan semakin besar kemungkinan terbentuknya ide baru sebagai hasil sintesa.

Bagaimana cara membenturkan ide-ide lama?

Jawabanya adalah dengan KEGAGALAN! Bila ide-ide lama menghasilkan kegagalan, maka kita makin terjepit, makin tersiksa dan kecewa, kumpulan ide-ide lama menjadi kita abaikan, dan kita mencoba berusaha lagi atau bahkan menjadi patah semangat. “Pabrik ide” didalam kepala kita terus berproduksi tetapi hasil produksinya menumpuk karena kita terlanjur mengabaikan, menganggap tidak ada gunanya dan hanya menghasilkan kegagalan saja. Akibatnya ide-ide itu demikian menumpuk dan mendesak-desak sehingga satu sama lain saling bertumbukan. Tumbukan-tumbukan ini akhirnya akan menghasilkan kombinasi baru.

Ide baru dilahirkan!

Kesuksesan sering kali meninabobokan kita sehingga secara terus menerus pabrik ide kita menghasilkan produk yang sama. Selama hasil produksi pabrik ide ini masih dapat digunakan (karena memberikan kesuksesan) maka ide baru justru tidak akan muncul, secara otomatis ide yang digunakan adalah ide-ide lama dan kreativitas seakan-akan menjadi mandul. Pada saat inilah kita sering merasa bahwa kreativitas kita menjadi kering, padahal masalahnya bukan pada sumbernya, tetapi pada “tantangannya”. Selama tidak ada tantangan (karena masih sukses) ide lama tidak akan bersaing ketat dan tumbukan antara ide tidak terjadi.

Bayangkan anda terjebak dalam ruang tertutup dan anda tidak memiliki kunci untuk membuka pintunya.

Apa yang akan anda lakukan?

Pertama-tama anda akan mencoba lagi dengan cara lama, yakni dengan mencoba memutar handle pintu itu. Ini adalah perilaku lama yang (biasanya) berhasil/sukses dilakukan untuk membuka pintu. Tergantung pada seberapa kengototan anda, maka kegiatan mengungkat-ungkit handle pintu ini akan berlangsung.

Pada suatu saat anda akan putus asa (merasa gagal dengan cara lama ini). Mungkin  anda berhenti sebentar, beristirahat dan mulai berpikir. Tergantung dari berapa banyaknya pengalaman dimasa lalu, maka anda akan mencoba lagi dengan “stock ide-ide lama” seperti : berteriak minta tolon, mengetok-ngetok pintu, mendobrak dll.

Bila semuanya tetap gagal maka akhirnya anda akan kehabisan stock dan mulai saling “membenturkan” ide-ide lama sehingga terlahir ide-ide baru.

Dengan kata lain anda menjadi lebih kreatif.

Anak buah, anak anda sendiri, team kerja anda, semua memerlukan tantangan ini. Batasan tantangan ini adalah daya tahan masing-masing individu, bila daya tahan dilampaui maka kreativitas akan berhenti berproses.

Tantangan harus selalu diberikan sebagai bahan baku proses kreatif dan menu utama adalah “kegagalan terkendali”.

BROADENING

Bahan baku ide kreatif adalah ide lama yang saling berbenturan dengan sesama ide lama yang berkompetisi satu sama lain. Oleh karena itu perbendaharaan ide-ide lama ini diperlukan agar “persenyawaan” yang terjadi makin beragam, makin banyak pilihan.

Dari mana datangnya perbendaharaan ide-ide lama?

Dari pengalaman, dari latihan, dari pengetahuan. Seseorang musisi yang memiliki banyak keterampilan akan lebih subur mudah menghasilkan ide-ide kreatif dibandingkan dengan bila ia hanya memiliki satu macam keterampilan.

Oleh karena itu potensi kreatifitas akan meningkat bila :

  • Kita selalu menambah “ilmu” baik dalam bentuk pengetahuan maupun dalam bentuk keterampilan.
  • Semakin luas bidang yang kita kuasai, maka semakin unik ide kreatif yang mungkin dilahirkan.

SURROUNDING

Penataan (dan rekayasa) lingkungan adalahfaktor pendorong yang akan mampu mempersubur kreativitas kita. Lingkungan harus diusahakan menciptakan “tekanan terkendali” sehingga orang tidak dengan mudah mencapai hasil. Tentu saja “tekanan” yang diberikan harus dalam kendali, kalau terlalu berat tentu akan menghambat lahirya ide-ide kreatif karena orang tersebut menjadi putus asa.

Salah satu contoh pelaksanaan strategi surrounding ini adalah misalnya menata meja kerja dengan posisi baru, menggantungkan grafik di tembok, memindah susunan file, rotasi tugas dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s