PROGRESSIVE ROCK : FASE – FASE PERJALANAN PROGRESSIVE ROCK


TIGA GELOMBANG PROGRESSIVE ROCK

60 – 70an

Ini adalah masa kelahiran progressive rock walaupun istilah itu sendiri belum lahir. Beberapa elemen yang merupakan ciri dari grup-grup itu adalah pemakaian keyboard seperti Hammond organ dan Leslie Speaker, electric piano dan mini moog.

Prog rock menjadi sangat populer dan mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1970-an. Menjelang akhir tahun 1970, perlahan tapi pasti, kepopuleran prod rock menyurut dikepung musik “punk”. Grup prog rock terkemuka saat itu adalah Genesis, Emerson Lake & Palmer (ELP), Camel, King Crimson, Pink Floyd, Gentle Giant, Yes yang semuanya dari Inggris, Focus (Belanda), magma (Perancis), PFM (Italia), Frank Zappa dan Kansas, keduanya dari AS.

80an

Setelah masa kejayaan prog rock berakgir, satu per satu grup-grup progressive rock membubarkan diri. Sebagian mencoba bertahan dengan mengorbankan idealisme mereka, berkompromi dengan “pasar” dan menjadi sangat “pop” dan komersial. Namun beberapa musisi muda pencinta prog rock tidak mau menyerah begitu saja. Tahun 1983, Marillion sebuah grup dari Inggris, merilis album berjudul Script For A Jester’s Tear. Marillion mengambil elemen-elemen musik Genesis dan kemudian “menyederhanakannya”. Upaya Marillion dan sederet grup lainnya seperti Saga, Pendragon, Pallas ataupun IQ berhasil membawa kembali prog rock ke puncak popularitas walaupun tidak menyamai tingkatan tahun 70-an. Bentuk musik prog baru ini akhirnya dikenal sebagai “neo progressive” atau disingkat neo prog.

Neo prog dianggap sebagai kebangkitan kembali prog rock sekaligus disebut sebahai “prog rock gelombang kedua”. Secara umum, musik neo prog adalah kombinasi musik Genesis, Yes dan Camel (inspirasi utama bagi neo prog) dengan musik “new wave” serta berbagai musik rock yang beredar pada dekade 80-an. Digital synthesizer merupakan instrumen yang sangat lajim dipakai oleh musisi neo prog. Ini menyebabkan secara “bunyi” menjadi sangat khas. Sub-genre ini masih berlanjut sampai tahun 90-an dengan grup-grup seperti Arena (Inggris), Jadis (Inggris), Iluvatar (AS) atau Collage (Polandia).

90an

Di akhir dekade 80, perkembangan musik bisa dikatakan tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Memasuki tahun 1990-an, musik prog menjadi bergairah kembali dengan lahirnya beberapa grup baru seperti The Flower King’s, Anekdote ataupun Anglagard, ketiganya dari Swedia, Spock’s Beard, Salem Hill, Boud Deun dan Echolyn dari Amerika Serikat, Cast (Meksiko),  Ars Nova (Jepang) serta Porcupine Tree dari Inggris. Berbeda dengan neo Prog, bentuk atau struktur musik grup-grup ini lebih dekat kepada musik prog era tahun 1970-an. Pengaruh dari grup-grup seperti Yes, Genesis, ELP, Rush, Gentle Giant dan Van Der Graaf, untuk  menyebut beberapa nama, sangat terasa. Aliran musik yang dibawa grup tahun 90-an ini sering disebut sebagai “prog rock gelombang ketiga”

Sementara itu, sejak pertengahan tahun 80-an, musisi-musisi yang lebih muda seperti Dream Theater, Fates Warning, Savatage ataupun Queensryche, semuanya dari AS, mencoba mengembangkan musik “metal” yang sedang populer saat itu dan mengawinkannya dengan elemen-elemen prog rock gelombang pertama. Terbitnya album Image And Words dari Dream Theater adalah pertanda lahirnya sub genre prog rock yang dikenal sebagai “progressive metal” atau prog metal.

Musik Rock Cerdas

Pada akhirnya, musik progresif telah berkembang dan memiliki identitas sendiri. Sesuai dengan namanya, musik ini menjadi sarana ekspresi bagi mereka yang gelisah dengan keterkungkungan patokan-patokan bermusik. Progresif menyediakan lahan bagi para musisi untuk bebas mengembangkan musiknya ke arah yang mereka inginkan meskipun hal tersebut (bisa) bertentangan dengan keinginan pasar.

Bagi para penggemarnya, bisa jadi musik progresif kemudian telah berkembang ke arah suatu ekslusifitas tersendiri, sebagaimana yang dulu terjadi pada musik klasik. Musik progresif adalah musik rock yang lebih cerdas. Paradigma ini kemudian berkembang sehingga banyak asumsi yang mengatakan bahwa musik progresif hanya menjadi nikmat bagi sebagian orang. Sesungguhnya, hal ini terjadi justru karena sebagian orang telah terperangkap dengan formula musik pop yang telah memasyarakat sehingga menghadapi kesulitan untuk menikmati musik “lain”. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa tidak akan sulit untuk mengapresiasi musik progresif seandainya si pendengar mau mencoba berpikiran di luar jaring kotak-kotak yang sudah dirajut oleh industri musik pop.

Selamat membuka pikiran.

Selamat menikmati musik pop yang “menantang”!

by: Andy Julias (Indonesian Progressive Society)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s