Pipic

MUSISI : SEBUAH PROFESI YANG DARI DIMUSUHI HINGGA DISENANGI ORANG TUA


Oleh : Pipic

Masih ingat sekali di ingatanku, waktu pertama kali mulai menyukai bermain musik. Lagu anak –anak “Helly” menjadi perantaraku mulai belajar main gitar. Oleh kakak-ku lah aku di ajari main gitar. Keinginan itu muncul karena aku merasakan sebuah keindah yang tersirat dari sebuah musik bukan dari ajakan atau iming-iming lainnya yang berasal dari luar jiwaku. Kala itu aku masih duduk dibangku kelas 4 SD, beruntung aku dilahirkan dilingkungan yang menyukai musik, yang mana Ibuku sangat menyukai Musik Keroncong dan pernah menyanyi Keroncong di salah satu stasiun Radio waktu itu masih AM.

Tapi tren musik anak muda saat itu lagi deras-derasnya di landa pengaruh music Rock dari luar negeri (entah itu Rock and Roll, Hard Rock, Heavy Metal dan sub Genre lainnya). Di sini kekawatiran seorang Ayah dan Ibu mulai muncul, karena pengaruh musik Rock sangat mempengaruhi pola sosial anak-anak mereka. Dari dandanan, polah tingkah yang menjurus ke sisi negatif yang gampang sekali menyusup ke jiwa anak muda, sampai kamar pribadinya di hiasi oleh poster-poster musisi / grup band idolanya.

Sampai disitu aku tetep merasakan ketertarikan kepada musik bukan karena hal-hal tersebut diatas melainkan unsur keindahan yang akurasakan masuk dari kuping turun ke hati (apa karena aku masih kecil yang belum tau tentang tren kali ya…hehehehe). Seiring berjalannya waktu dan diri ini mengalami fase-fase hidup, musik akhirnya menjadi media untuk meluapkan isi hatiku yang paling dalam. Yang waktu itu suasana hati senang atau sedih lagu yang aku mainkan tetep aja “Helly” dan lagu anak-anak lainnya. Tapi sejalan dengan diri yang mengalami perubahan, lagu yang didengarkan dari “Helly”menjadi yang ada kata “Hell-nya”. Pergolakan yang sangat signifikan muncul di akhir aku duduk di SMP dan mulai mengenyam bangku SMA, dan ditambah kondisi lingkungan sosial, ekonomi dll yang aku alami membuat aku makin berontak yang saat itu bisa dikategorikan “Brokenhome”. Hidup dihiasi dengan polah tingkah Rock and Roll : main musik dan mabuk-mabukan karena rasa frustasi. Kontan kondisi ini membuat Ibuku yang “Single Parent” uring-uringan dan melarang keras aku bermusik-ria. Tapi aku tetep bandel dan terus bermusik ria yang mana dengan main musik rasa frustasi ini hilang.

Bersama bandku “Lost Boy’s” aku mulai mencoba ikut-ikutan festival, dengan modal kemampuan sangat minim. Dengan usaha keras bersama teman-teman akhirnya Band (yang sempet gonta-ganti personel) lumayan mendapat prestasi, dari cuma masuk final hingga menyabet juara 1 dan menjadi band favorit. Hal ini akhirnya bisa menunjukkan kepada orang tua bahwa kami juga bisa berprestasi walaupun tidak melalui pendidikan formal. Tapi itu belum cukup bagi orang tua, orang tua hanya menilai ini sebagai kebanggaan saja atas sebuah hobi karena dinilai dari segi materi/finansialnya masih belum apa-apa dan memang orientasi utama aku dan teman-teman bukan pencapaian sebuah materi/finansial melainkan lebih dominannya sebuah apresiasi jiwa seni.

Di waktu yang sama di sebelah bumi yang lain anak-anak seperti aku dengan melalui fase yang kurang lebihnya sama seperti ceritaku diatas berhasil memperoleh kedua-duanya yaitu : apresiasi seni itu dan mendulang materi dari seni tersebut walaupun secara finansial juga masih minim hasilnya ini kalau di Indonesia bila di luar negeri pada waktu itu secara financial mereka sudah sangat sukses. Hingga pada suatu masa aku memutuskan untuk total menjalani Profesi Seorang Musisi. Dan apa kata Ortuku…”TIDAK”, “apa nanti anak istrimu akan kamu beri makan mereka dengan senar gitar” tambah Ibuku tercinta. Disini orang tua pada umumnya masih meragukan Profesi sebagai Musisi.

Waktu terus berputar hingga akhirnya para anak muda di Indonesia khususnya berhasil menunjukkan kepada para orang tua dengan berhasinya pilihan profesi dia menjadi seorang Musisi. Contohnya band pop “Sheila On” yang konon penjualan albumnya “Kisah Klasik Untuk Masa Depan” berhasil menembus angka diatas 2 juta keeping. Sosok Eros menjadi dikenal dari anak kecil sampai orang tua, disusul oleh keberhasilan Band Rock “Jamrud” yang berhasil menjual albumnya “Ningrat” yang liriknya menjadi kontroversial dikalangan orangtua tembus diangka 1,5 juta keeping. Dan dikesempatan yang sama Band Padi dengan “Sesuatu Yang Tertunda” tembus diangka 1,6 juta keeping. Deretan musisi yang albumnya terjual diatas 1 juta keeping akhirnya makin bertambah salah satu penyebabnya karena pencapaian sebuah seni artistik masing-masih band yang berbeda satu sama lainnya yang memiliki ciri khas tersendiri. Dengan prestasi yang dicapainya para personil band-band tersebut menjadi santapan media, baik media radio, visual maupun media masa yang membuat orang tua akhirnya memperhitungkan Profesi sebagai Musisi.

Akhirnya band-band baru atau artis solo baru, mulailah bermunculan. Hal ini didorong oleh makin tertariknya orang tua akan profesi sebagai musisi yang dipandang kedudukannya sangat mentereng setatusnya. Bahkan ada orang tua yang sampai mendatangi sebuah produser dengan membawa segepok uang berharap anaknya bisa di buatkan album, entah anak tersebut memang benar-benar punya bakat ataupun sama sekali tidak punya bakat. Orang tua tersebut memiliki sebuah ambisi yang mengorbankan anaknya sendiri agar anaknya terkenal, uangnya banyak, muncul dilayar televisi dan menjadi buruan media masa dikerumuni banyak orang. Mereka hanya tergoda karena Booming sukses tersebut. Malah yang ada sekarang musisi yang “banyak sensasi minim prestasi”.

Apalagi sekarang dengan adanya RBT yang penghasilannya aduhai, yang konon RBT bisa mengatasi masalah sadisnya pembajakan musik yang berdapak hancurnya penjualan fisik album musik. Belum juga dengan adanya media lainnya yang bisa digunakan untuk memperlancar popularitas, sebut saja YouTube, Facebook dll. Makin tipislah sekarang batasan-batasan yang dulu ada, yang membatasi sebuah keinginan anak muda. Apa boleh buat…..tinggal sekarang bagaimana caranya menggabungkan antara sebuah apresiasi seni dengan sebuah industri agar kedua-duanya mencapai sebuah hasil yang maksimal. Industri pastilah mempunyai keinginan apresiasi seni tersebut harus berimpect kepada sisi finansialnya. Musisi yang masih berkutat di idealisnya mau tidak mau harus menyadari fenomena ini, bila tetep mau mempertahankan keidelisannya harus tetap setia, toh nantinya pasti akan membuahkan hasil tersendiri, yang jelas dalam musik seorang Musisi akhirnya dituntut harus “jujur”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s