Yudis Dwikorana

Tips Melakukan Aransemen Sebuah Lagu By. Yudis Dwikorana


Yudis Dwikorana
Yudis Dwikorana

Berikut kutipan kultwit Yudis Dwikorana seorang produser dan music director yang telah dan masih memproduksi banyak lagu/ musik artis besar di Indonesia dari IWAK, Pesta Rap, Dewi Sandra, Agnes Monica dan banyaak lagi, ini dia kultwitnya, selamat menyimak.

Mau berbagi soal sedikit pengalaman dan tips #aransemen musik nih…

Ga membahas hal yg teknis sih. Banyak teman2 yg lebih tahu soal itu drpd sy. #aransemen

#aransemen adlh proses menghasilkan musik yang terbaik yg sesuai pesan lagu, kapasitas penyanyi dan audiensnya.

#aransemen menyangkut soal bagan lagu, instrumen dan sound apa yg digunakan, serta siapa, kapan dan bgmn memainkannya.

Sebelum meng #aransemen lagu, yg hrs kita lakukan tentunya mengenal benar karakter dan mood lagu.

Ada 5 hal terkait dgn ini: 1) Harmoni 2) Melodi 3) Ritmik 4) Bagan lagu dan 5) Lirik #aransemen

Selain mencerna melodi lagu dgn baik, biasanya yg pertama sy lakukan adlh memahami pesan liriknya.

Dalam soal lirik, penjelasan si pengarang ttg isi dan pesan lagu hanya menjadi acuan.

Sy hrs bisa menangkap esensi dan merasakan sendiri makna liriknya.

Dgn menggali dan memahami lirik secara langsung ada “pemaknaan ulang” atas lagu yg akan kt aransemen.

Dari situ kt bisa mulai berimajinasi progresi kord apa yg bisa digunakan di bawah nada/melodi lagu yg ada.

Apakah kita masih dpt memakai progresi kord asli si pengarang lagu atau kita mau memperkaya/mengganti/menambahkan.

Ditahap ini kt juga sudah mulai mendpt gambaran tempo, groove & patern beat yg pas sprt apa utk musiknya.

Setelah punya gambaran utuh lagunya, Kita perlu tahu (bila blm tahu) kapasitas dan visi si penyanyi.

Harapan, kemampuan dan visi penyanyi, penting utk membantu menetapkan goal/tujuan aransemen musik kita.

Kapasitas (kelebihan & kelemahan) penyanyi jg akan menjadi pertimbangan utk aransemen musiknya.

Misalnya, utk penyanyi dgn range vocal yg sempit, pertimbangkan utk tdk memodulasi kord (key changes) yg sulit.

Bayangkan bila dgn vocal range sempit, kita membuat membuat modulasi selebar Stevie Wonder Over Joy atau Johnny Cash I Walk the line?

Selain itu kita jg perlu mempertimbangkan audiens dan genre dari penyanyinya.

Genre yg dimaksud di sini tentu saja adlh Pop. Tetapi setiap penyanyi biasanya lbh dikenal dgn “label” tertentu menurut audiensnya.

Penyanyi sprt Agnes Monica, Dewi Sandra, misalnya, lebih dikenal di genre Pop/Dance/R&B. Oppie Andaresta lebih ke Folk/Rock/Pop.

Di sini perlunya seorang aranjer memposisikan diri sbg pendengar awam.

Sebagai awam kita membayangkan apa yg membuat kita tertarik pd sebuah lagu..Apa yg menjadi racun sehingga kita menyukai lagu/musik tertentu?

Setelah memahami gambaran umum lagu, karakter/kapasitas penyanyi, mood/goal aransemen, dan audiens/genrenya, lalu apa?

Memulai kerja dengan Daw, midi template, sound dan instrumentasi yang sudah akrab atau sering anda gunakan.

Apakah selanjutnya final aransemen anda hanya menggunakan computer based music atau dicampur dgn live session, itu tergantung kebutuhan.

Atau bisa saja seluruh final musik anda akan dimainkan live, kerja dengan DAW hanya menjd dummy music saja

Soal penggunaan midi ini, pd thn 2007an sy pernah denger scoring yg katanya milik John Williams (dan team?) dgn instrumentasi full

Hasilnya bisa sangat real dan mengagumkan bila dikerjakan dgn baik dan oleh ahlinya, walaupun cuma utk dummy saja.

Tapi, konon kbrnya, akhir2 ini John williams pun menggunakan mix antara computer music dan live orchestra utk musik filmnya

*yaa sori barusan agak2 off topic..itu td sedikit intermezzo ttg midi dan seorang John Williams. Kembali ke bikin aransemen..

Saya biasanya memulai dari verse1/bait1 hingga chorus1 selesai. Setelah itu sy akan mengerjakan intro.

Namanya introduksi, dia merupakan gerbang pertama buat pendengar utk meneruskan hingga ke akhir lagu, jd perlu penanganan ekstra.

Intro bisa diambil dari bagian lagu yang paling nge-hook atau part yg paling mencuri perhatian (dengar dari posisi awam tadi)

Intro bisa jg merupakan part baru yg tdk ada di bagan lagu, tapi yg jelas harus menarik dan men-set keseluruhan mood lagu.

Seorang aranjer musik urban, biasanya memulai aransemen dgn membuat beat/drum patern terlebih dulu.

Tetapi sy lebih sering memulai dari patern nada yg memberi groove dan membayangkan sound yg menarik di atasnya.

Bahkan ketika membuat aransemen Hip Hop atau Rap, sy cenderung memulai dgn sound dan nada yg menarik drpd memulai dgn patern drums.

Ini hanyalah masalah selera dan preferensi, stiap aranjer masing2 punya kebiasaan dan gimmick yg berbeda-beda.

hahaha jadi panjang beeng nih twitnya…ngga apa2 ya cerita aja…:p)

Pada bagian bait lagu1/verse1, sebaiknya aransemen dibuat lebih sparse atau seminimalis mungkin.

Di verse/lagu ke-1 ini orang baru mulai mencerna isi lagu dan penampilan penyanyi.

Kecenderungan kita buru2 membuat counter point nada yg bagus, misalnya, tapi bs membuat pendengar teralih perhatiannya dr lagunya.

Patokannya selalu: melodi lagu dan vocal harus ttp jadi raja/ratu atau pusat perhatian pendengar.

Dalam bagan seluruh lagu memang ada semacam lembah dan puncak. Bagian bait adalah lembah dan bagian chorus mnjd puncak/klimaks.

Tapi sebenarnya di stiap bagian (misalnya di chorus) ada lembah dan puncaknya masing2. #aransemen

Ini jadi alasan, misalnya, kita suka memberi aksen diakhir bait 1 utk mengantar ke bait2 atau bridge/pre hook atau chorus.

Maka krn itu jg sering kita temui instrumen string/brass baru muncul pada bait2 atau bridge dan chorus.

Pd chorus yg mnjdi puncak klimaks lagu, biasanya ada treatment khusus dgn detil, tekanan dan sisipan gimmick2 kecil di sana.

Detil2 itu bisa berupa pola nada, pergantian ritmik atau sound apapun yg menarik pendengar.

Dan hal itu, sekali lagi, kita masukan utk memaksimalkan melodi chorus, bukan mengubur vocal di dalam musik.

Cara yg simpel utk mengisi chorus adlh menebalkan melodi lagu dgn instrumen atau back vocal. Bisa jg membuat harmoni dari nada aslinya.

Misalnya, dgn mengambil nada2 tinggi di instrumen string utk “mengiringi” alunan vocal. Tdk hrs sama dgn melodi namun dgn mood yg sama.

Ini kelihatannya overdo dan cheesy, tapi sgt efektif untuk mengangkat chorus lebih menarik buat kuping pendengar.

Cara sprt itu, misalnya, kt bisa dengar di Brandy-Missing You, Pet shop Boys – Before dan puluhan lagu hits lainnya

Atau mungkin kt bisa menemukan pola call and response di mana nada vocal disambut dgn counterpoint melodi baik oleh instrumen atau bac.voc.

Contoh: ending chorus Something the Beatles di mana melodi vocal di respons oleh nada gitar sangat memorable dr George Harrison.

Pada lagu kedua stlh chorus musiknya mungkin bisa dipadatkan dgn menambah sdkt instrumentasi dan nada varian dr lagu1.

Bisa jg sebaliknya, 4 bar pertama verse 2 ini malah instrumentasinya kita kurangi dulu or kt buat lebih sepi…

Intinya mengerjakan aransemen musik seperti bercerita. Ada dinamik, kontras, kontinuitas dan suprise.

Di sini kita belajar bagaimana menyeimbangkan antara Flow vs Break, Tension Vs Release dan Unity dan Variety dalam sbuah lagu.

Kita bisa mengubah urut2an lagu berdsrkn kebutuhan…bercerita dgn dinamika seolah musik itu suatu fragmen kecil kehidupan.

Nah, kalo sdh selesai dgn intro-lagu1 – (prehook, bila ada)-Chorus1-lagu2, kt bisa meneruskan hingga ke bagian coda dgn pola dinamik tadi.

Kira2 segitu dulu ya sdkt pengetahuan dan pengalaman sy ttg aransemen musik..FYI: sy juga masih terus banyak belajar kok soal ini.

Kapan2 kita terusin lagi soal tips dan pengalaman ini. Semoga bermanfaat

by @yudisdwiko

Disadur dari website : http://yumaju.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s